#htmlcaption1 #htmlcaption1 Go UP! pure javascript. no jquery. no flash. #htmlcaption2 Stay Connected

Mahasiswa, Entitas dan Identitas Solusi Perubahan

Mahasiswa, Entitas dan Identitas Solusi Perubahan*

Mahasiswa, Entitas dan Identitas Solusi Perubahan

"Penggalian solusi harus radikal bukan sekedar menilai dari yang tampak di permukaan saja namun harus melibatkan sesuatu yang Azali, memuaskan akal, menentramkan jiwa serta mampu menjawab sebelum dan sesudah penciptaan alam semesta."

Pemuda atau lebih tepatnya mahasiswa masih menjadi sebuah kasta yang patut diperhitungkan di tengah-tengah masyarakat terlebih pada lapisan dan tingkatan akar rumput. Masih tersemat harapan besar di pundak mahasiswa sebagai sosok ideal yang masih memiliki idealisme yang tinggi, energik dan selalu bersemangat disetiap kesempatan.

Kesempatan menjadi mahasiswa di negeri ini terbilang masih mahal tetap bertahan pada level tersier. Pasalanya, baru 7,2 persen anak bangsa nikmati bangku kuliah (Pikiran Rakyat, 05/12). Indonesia adalah negara yang memiliki lebih dari 220 juta penduduk, namun untuk tingkat partisipasi kasar pendidikan tinggi baru mencapai 18,4 persen terhadap populasi penduduk berusia 19-24 tahun (Kompas, 3/11).

Kesempatan Emas
Berdasar fakta di atas, menjadi seorang mahasiswa tidak boleh disepelekan apalagi berlalu begitu saja dengan kehampaan. Mahasiswa adalah entitas untuk perubahan. Mahasiswa dengan entitas dan identitasnya merupakan sebuah keberadaan yang unik dan berbeda. Pemuda (syabab), mahasiswa sebuah entitas dan identitas kekuatan intelektualitas masyarakat sekaligus sebagai pembawa dan penjaga nilai-nilai ideal dalam sebuah tatanan kehidupan masyarakat. Karena orientasi idealis dan pembelaannya pada kebenaran, sebagian ahli memasukkannya ke dalam kelompok cendikiawan (Arief Budiman 1983: 150).

Menjadi mahasiswa adalah kesempatan emas. Kesempatan emas jika menjadi salah satu pemberi solusi bukan menjadi bagian dari masalah. Hal ini dikarenakan, mahasiswa adalah usia produktif dalam hal fisik dan pemikiran. Fase teratas tahap kritis dan ketterbukaan. Kampus terutama, tempat lahirnya para penentu kebijakan serta laboratorium multidimensional yang menggambarkan miniatur  sebuah negara. Lain halnya, mahasiswa memiliki posisi tawar sebagai statusnya sebagai mahasiswa yang cukup di perhitungkan, termasuk di masyarakat.

Pembentukan nilai-nilai idealis pada masa mahasiswa telah mengantar mahasiswa kepada gelangang arena perubahan sosial di dalam masyarakat. Tidak surut dalam ingatan kita bahwa gerakan mahasiswa (gema) angkatan ’66 yang bersatu dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) dalam melawan PKI. Pada tahun 1966 juga, saat presiden Soekarno menetapkan sistem presidensil. Gerakan mahasiswa di Indonesia mulai terlibat untuk memperjuangkan sebuah orde yang baru, solusi perubahan. 

Tidak sampai di situ, mahasiswa tetap berada di garda terdepan dalam mengusung solusi perubahan pada masa-masa selanjutnya. Pada tahun 1974 dan 1975 terjadi peristiwa Malari dan titik nadirnya pada tahun 1998 mahasiswa menurunkan rezim Orde Baru.

Problem Orientasi Mahasiswa
Gerakan-gerakan mahasiswa yang pernah muncul selama ini tampaknya belum mampu membawa kepada perubahan hakiki. Perubahan sosial yang membawa kepada kehidupan sosial yang bermartabat dengan Islam sebagai basisnya. Mungkin, jenuh menerpa diantara kita bahwa di saat mahasiswa idealisme kebenaran dijunjung tinggi namun di saat ditawari kekuasaan dengan partisipasi aktif di lembaga negara membawa realitas dan pragmatisme bicara lebih tajam daripada idealisme.

Arah dan kecenderungan gerakan mahasiswa (gema) sebagai social movement lahir dari konsep keterdesakan dan ketertindasan. Semakin parah pemerintah menyelewengkan kekuasaan maka akan berbanding lurus pula arah perjuangan dan pergolakan mahasiswa. Inilah kecenderungan social movement. Mahasiswa sama-sama sadar masalah namun untuk sadar akan tataran solusi bersama untuk diusung dan mengisi perubahan selanjutnya mereka akan terpecah belah. Boleh jadi, inilah faktor idealiasme hanya hadir di dunia mahasiswa karena yang nampak hanya sadar masalah namun di saat mengisi dan melanjutkan arah perubahan berubah menjadi pragmatisme dikarenakan mereka tidak menemukan kata sepakat dalam tataran solusi. Solusi mereka hanya mengedapankan kepentingan perut dan kepentingan kelompok mereka.

Solusi : Islamic Ideological Movement
Mandulnya mahasiswa mengusung, mengawal, hingga mengisi sebuah perubahan sosial perlu direvisi ulang untuk mendapatkan solusi yang benar-benar tuntas. Penggalian solusi harus radikal bukan sekedar menilai dari yang tampak di permukaan saja namun harus melibatkan sesuatu yang Azali, memuaskan akal, menentramkan jiwa serta mampu menjawab sebelum dan sesudah penciptaan alam semesta.

Solusi ini bukan untuk golongan tertentu sambil mendikotomikan dan mengesampingkan yang lain, namun akan menjadi sebuah kebenaran yang bisa diterima oleh siapa saja berdasarkan pembuktian, dalil aqli maupun pembuktian secara naqli. Ideologi Islam telah menggabungkan kesemua syarat tersebut. Keuniversalan Islam ditunjukkan dalam nash berikut ini. “Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.”[TQS Saba’ (34):28].  Begitu  juga hadis-hadis dari Rasulullah Saw, salah satunnya adalah di dalam riwayat Imam Muslim bahwa Nabi bersabda: “Adapun para nabi sebelum aku mereka di utus khusus untuk kaumnya,dan aku di utus untuk semua kalangan dari yang  merah hingga yang hitam.” Islam dengan ushul ‘aqidah dan hukumnya merupakan pemikiran mendasar yang diatasnya dibangun pemikiran-pemikiran cabang termasuk di dalamnya adalah solusi perubahan. 

Oleh : Indrawirawan
Mahasiswa Sosial Ekonomi Fakultas Peternakan Unhas Angkatan 2010

* Terbit pada Penerbitan Kampus "Identitas Unhas", Edisi Akhir Agustus 2013

Menelisik Peleburan Fakultas Peternakan

Menelisik Peleburan Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin

Mulai tahun ajaran baru 2011, tiga program studi (prodi) fakultas peternakan akan digabung menjadi satu menjadi  prodi peternakan. Lembaga kemahasiswaan khawatir kehilangan kadernya akibat penggabungan ini. Bagaimana nasib mahasiswa? lalu apa solusi dari pihak fakultas?

Akademik Fakultas Peternakan tampak ramai, beberapa mahasiswa serius memperhatikan nilai-nilai semester ganjil yang ditempelkan di jendela kaca, Senin (07/01). Selain itu, beberapa mahasiswa bersantai karena telah usai kewajibannya dalam perkuliahan. Tak banyak perubahan berarti, yang nampak dari aktivitas  civitas akademika Fakultas Peternakan. Namun, keadaan yang berbeda rupanya dialami oleh akademik dari Fakultas Peternakan.
Fakultas Peternakan berdasarkan Surat Keputusan (SK) dari Dirjen Pendidikan Tinggi (Dikti) no. 163/Dikti/Kep/2007 tentang Penataan dan Kodifikasi Program Studi Pada Perguruan Tinggi telah mengambil langkah sistematis untuk mempersiapkan peleburan beberapa prodi. Diantaranya Nutrisi dan Makanan Ternak, Sosial Ekonomi Peternakan, Produksi Ternak,  dan Teknologi Pengolahan Ternak menjadi satu prodi yaitu peternakan. Tahun 2011 inilah pihak birokrasi Fakultas Peternakan Unhas akan merealisasikan hal tersebut. Bila ditelisik lebih lanjut, peleburan beberapa prodi ini bukan menjadi sesuatu yang baru lagi. Bagaimana tidak, berita mengenai hal ini sudah santer terdengar sejak tahun 2008.  Bukan hanya peternakan, peleburan beberapa prodi ini  juga telah dilakukan oleh fakultas pertanian tiga tahun silam.
Pola peleburan yang dilakukan ini tidak jauh berbeda dengan yang dilaksanakan oleh Fakultas Pertanian Unhas. Rencananya aka nada dua kurikulum yang digunakan yaitu, kurikulum 2007 untuk mahasiswa lama dan kurikulum 2010 untuk mahasiswa baru angkatan 2011. Adapun rancangan dari kurikulum perkuliahan pun tidak banyak yang berbeda dari kurikulum sebelumnya, hanya saja peleburan prodi ini tetap berujung pada peminatan diakhir semester perkuliahan yang disesuaikan dengan kuota yang tersedia.  Peleburan ini menjadi alasan supaya kualitas dari setiap mahasiswa peternakan lebih terfokus secara menyeluruh dibidang ilmu Peternakan.
Hal ini dipertegas oleh Pembantu Dekan I Fakultas Peternakan Prof Dr Ir Asmuddin Natsir MSc “Kurikulum yang berlaku untuk mahasiswa yang berada pada tahun 2010 dan dibawahnya tetap mengikuti kurikulum yang lama sedangkan untuk mahasiswa baru nantinya akan mengikuti kurikulum yang baru,” ungkapnya ketika diwawancarai di Gedung Rektorat Lantai 6, Jumat (07/01). Kurikulum dari tiap prodi pun harus diperjelas agar tiap prodi tidak mengklaim mata kuliah wajib yang harus diambil mahasiswa. Namun, penggunaan kurikulum 2007 ini tidak semudah yang dibayangkan. Kurikulum ini nantinya akan berakhir dalam jangka waktu dekat ini. “Pihak Fakultas sedang mengusahakan kurikulum ini tetap bisa digunakan oleh mahasiswa lama hingga penyelesaian studi mereka terutama bagi angkatan 2009 dan 2010,” ujarnya menambahkan.
Ternyata, mahasiswa menyangsikan peleburan  ini terutama mahasiswa yang aktif dalam lembaga. Ketakutan akan bersatunya lembaga mahasiswa sedikit banyak menjadi alasan bagi para anggota himpunan meragukan peleburan prodi tersebut. Sebelumnya, di Fakultas Peternakan telah terbentuk tiga himpunan yang mewakili masing-masing program studi dimana dibawahi  oleh senat mahasiswa. Himpunan tersebut adalah Himpunan Mahasiswa Nutrisi Makanan Ternak (Humanika), Himpunan Mahasiswa Sosial Ekonomi Peternakan (Himsena), dan Himpunan Mahasiswa Produksi Ternak (Himaprotek). Wakil ketua Humanika Muhammad Adam Saputra, mengaku belum pernah ada pertemuan ataupun sosialisasi dari pihak birokrasi yang melibatkan mahasiswa. “Kami anggap itu hanyalah kabar angin semata karena dari tahun sebelumnya juga seperti ini,” tanggapnya dengan santai. 
Lain halnya dengan Pardi, Ketua himpunan Himsena, yang menyatakan bahwa sosialisasi mengenai peleburan prodi ini sudah sejak lama dilakukan oleh pihak birokrasi. “Saya pribadi, jadi atau tidaknya peleburan ini semua tergantung dari pihak birokrasi  fakultas, dari mahasiswa hanya mengikuti saja,” ungkap mahasiswa angkatan 2007 ini. Menjawab pertanyaan yang sama Adam mengungkapkan tidak setuju dan belum siap secara lembaga dengan rencana ini. “Kami akan melakukan aksi damai jika penggabungan ini terjadi,” menegaskan keraguannya dengan peleburan ini. Hal serupa diungkapkan oleh Abdullah, Ketua Himaprotek, “Secara kelembagaan saya tidak setuju dengan peleburan ini, karena bagaimana pada kelanjutan dari himpunan nantinya.” 
Selaku Pembantu Dekan III bidang kemahasiswaan Ir Muh Aminawir MM menegaskan bahwa peleburan ini tidak akan merugikan pihak mahasiswa dalam hal ini kelembagaan. Meskipun, secara lembaga diakui belum begitu siap dengan peleburan ini. Untuk pengkaderan tahap awal akan dijalankan oleh senat mahasiswa yang terdiri dari gabungan  himpunan mahasiswa peternakan. Dalam jangka waktu tiga hingga empat tahun himpunan akan kosong tanpa kader, namun hal ini bukan penghalang. “Kan, masih ada anggota himpunan yang sebelumnya dan akan menjadi tanggung jawab dari senat dibentuk. Selain, itu perwakilan mahasiswa akan diikutkan dalam rapat kerja pembahasan mengenai hal ini pada pertengahan bulan Januari nanti. Jadi, sekaligus menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka,” tegasnya ketika diwawancarai di ruang akademik Fakultas Peternakan, Senin (3/1). Selain itu, Aminawir pun menambahkan kalau fungsi himpunan akan kembali sebagaimana mestinya yaitu membuat mahasiswa semakin terarah pada konsentrasi atau peminatan yang dipilihnya. 
Persiapan Fakultas Peternakan sejauh ini jelas telah siap menilik jangka waktu yang diberikan dari tahun 2008. Hal yang senada dilontarkan oleh Wakil Rektor I bidang akademik Prof Dadang Ahmad Suriamihardja yang ditemui di ruangannya, Senin(3/1). “Kalau persiapan dari Fakultas Peternakan saya yakin sudah matang karena mereka   (Fakultas Peternakan-red) juga telah melaporkan kepada Universitas. Harapan dari pihak universitas sendiri tentunya dengan peleburan prodi peternakan ini akan menjadi sebuah awal yang baru untuk dapat memiliki pencitraan dimata masyarakat umum,” tuturnya menutup pembicaraan. 

Oleh Rahmat Ihsan Mappangara

" Bumi dan air dan kekayaan yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat



         Ini yang kemudian membuat jiwa kita geram, realitanya Kemakmuran Rakyat semakin menjauh dari jangkauan. Kemakmuran hanya dimiliki oleh para pemilik modal, kaum elitis, kaum borjuasi dan penguasa politik dan militer. Seringkali mereka mengatakan, kami juga bagian dari rakyat Indonesia yang memiliki hak yang sama dijamin konstitusi. Benarkah demikian. Siapa rakyat itu, apakah sekelompok elit 5% penduduk Indonesia yang menguasi kueh pembangunan 80%; dimana 95% penduduk Indonesia memperebutkan 20% kueh pembangunan. Inikah yang di cita-citakan oleh para pejuang kemerdekaan?.
            Dalam tulisan Prof Sri Edi Swasono tentang siapa rakyat menarik untuk kita simak :“Rakyat” adalah konsepsi politik, bukan konsepsi aritmatik atau statistik, rakyat tidak harus berarti seluruh penduduk. Rakyat adalah “the common people”, rakyat adalah “orang banyak”.Pengertian rakyat berkaitan dengan “kepentingan publik”, yang berbeda dengan “kepentingan orang-seorang”.Pengertian rakyat mempunyai kaitan dengan kepentingan kolektif atau kepentingan bersama. Ada yang disebut “public interest” atau “public wants”, yang berbeda dengan “private interest” dan “private wants”. Sudah lama pula orang mempertentangkan antara “individual privacy” dan “public needs” (yang berdimensi domain publik). Ini analog dengan pengertian bahwa “social preference” berbeda dengan hasil penjumlahan atau gabungan dari “individual preferences”.Istilah “rakyat” memiliki relevansi dengan hal-hal yang bersifat “publik” itu. Mereka yang tidak mampu mengerti “paham kebersamaan” (mutuality) dan “asas kekeluargaan” (brotherhood, bukan kinship) pada dasarnya karena mereka tidak mampu memahami arti dan makna luhur dari istilah “rakyat” itu, tidak mampu memahami kemuliaan adagium “vox populi vox Dei”, di mana rakyat lebih dekat dengan arti “masyarakat” atau “ummat”, bukan dalam arti “penduduk” yang 210 juta. Rakyat atau “the people” adalah jamak (plural), tidak tunggal (singular).
             Maka dari itu Sebaiknya dalam proses implementasi terkait kebijakan yang telah diambil oleh para pemangku kebijakan dengan bingkai konstitusi dapat dilaksanakan dengan merata diseluruh tanah air tanpa diskriminasi antara daerah yang satu dengan daerah yang lain dan semata-mata diperuntukkan kepada rakyat, khususnya dalam pengelolaan sumber daya alam. Serta pengawalan dan pengawasan yang dibutuhkan dari masyarakat kepada orang-orang yang kita amanahkan menjadi alat Negara dalam pesta demokrasi (Pemilu) untuk menjalankan system  kenegaraan. Agar kiranya nilai luhur tujuan integrasi sosial terbentuknya negara dalam melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan social, dapat tercapai.


“Untuk pahlawanku para petani, nelayan, peternak yang darimu saya 
masih dapat bertahan hidup”
Sumber: Kader Pembaharu
Fb       : Rahmat Ihsan Mappangara

Sejarah Himsena-UH



  Identitas Organisasi
  • Nama Organisasi : Himpunan Mahasiswa Sosial Ekonomi Peternakan Universitas Hasanuddin
  • Singkatan            : Himsena-UH
  • Tanggal Berdiri    : 28 November 1986
  • No Inventaris      : - UU No.2 Thn 1989 Tentang Sistem Pendidikan Nasional
                                      - SK. Mendiknas No. 155/u/1998 Tentang Pedoman Umum Organisasi     
                                         Kemahasiswaan di Perguruan Tinggi.
  • Alamat                 : Jalan Perintis Kemerdekaan KM 10, Parkir Timur UNHAS Tamalanrea,   Makassar
Dasar Pembentukan HIMSENA
     Himpunan Mahasiswa Sosial Ekonomi Peternakan (HIMSENA) didirikan pada Tanggal 28 November 1986 ketika itu, Mayoritas orang menjadi bisu dibungkam oleh keadaan politik yang menekan dan mencekam. Wacana Pembangunan diisi dan dimonopoli oleh kekuasaan orde Baru yang Otoriter dan Korup. Mayoritas rakyat, Universitas (kampus), intelektual, LSM, Pers, dan DPR dibungkam. Karena tidak ada kontrol dan tidak ada oposisi yang efektif agar proses politik menjadi berbudaya dan beradab, agar politik lebih toleran, menghargai dan menghormati perbedaan pendapat.
     Himpunan Mahasiswa Sosial Ekonomi Peternakan (HIMSENA) organisasi Struktur yang berlinearitas dengan jurusan Sosial Ekonomi Peternakan Universitas Hasanuddin, untuk membantu kinerja mahasiswa Sosial Ekonomi Peternakan Guna sebagai mitra dalam pengembangan Mahasiswa dan alumninya dalam mewujudkan Tridarma Perguruan Tinggi dan ikut mencerdaskan kehidupan bangsa.
     Sejarah perjalanan berbangsa dan bernegara, Indonesia sedang mengalami sebuah stigma baru, sebuah perubahan yang cukup mendasar dalam segmen kehidupan bermasyarakat, terutama perubahan dalam pola ketatanegaraan yaitu dari pemerintah yang nyaris totalitas murni menuju sebuah sistem pemerintahan yang demokratis sebagai konsekuensinya, situasi ini sangat mempengaruhi seluruh pranata kehidupan yang ada, tidak hanya insitusi politik, tetapi juga institusi ekonomi, sosial budaya dan hukum. Pengaruh tersebut tidak hanya pada dimensi struktural tetapi juga dimensi kultural.
     Sebagai perubahan, maka yang terkandung didalamnya ada unsur peluang, bahaya dan korban. Oleh karena itu, untuk menjalani proses perubahan tersebut dibutuhkan tanggungjawab moral, kedewasaan, dan kearifan oleh seluruh komponen bangsa, tidak hanya penata dan pelaku kebijakan, karena jika tidak demikian, maka justru kehancuran kehidupan bangsa dan negara yang kita tuju.
     Himpunan Mahasiswa Sosial Ekonomi Peternakan Universitas Hasanuddin (HIMSENA-UH) sebagai salah satu komponen bangsa yang mempunyai tanggung jawab moral yang telah menjadi jati dirinya, dan telah ter-manifestasikan tercatat dalam sejarah perjalanan bangsa ini.
     HIMSENA-UH telah menunjukkan peran ke-peloporannya dalam membangun formasi sosial yang telah menempatkan masyarakat dalam posisi signifikan dalam kehidupan struktural masyarakat. Terlebih lagi dalam menghadapi situasi perubahan saat ini yang telah dimulai menuntut ke-unggulan kualitas sumber daya manusia dalam berbagai dimensi. Himpunan Mahasiswa Sosial Ekonomi Peternakan (HIMSENA-UH) semakin teguh dengan fungsi dan perannya sebagai organisasi kader dan sebagai sumber insani pembangunan sesuai dengan tujuan HIMSENS-UH yaitu "Mewujudkan Pendidikan Nasional dan Tri Dharma Perguruan Tinggi".

Maksud dan Tujuan HIMSENA
     Organisasi ini berbentuk wadah warga HIMSENA dengan maksud dan tujuan didirikan untuk membangun sikap kritis dan menggugah komitmen masyarakat guna mewujudkan Pendidikan Nasional dan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang bermartabat, berkeadilan sosial dan demokratis, berperikemanusiaan dari segala bentuk penjajahan dan penindasan.

Issu yang ditangani
     Masalah Kemanusiaan (Hak asasi Manusia, Lingkungan Hidup, dll), Masalah Keadilan (Pengkaderan demokrasi, Penegakan Hukum, Keadilan Sosial, Politik, Ekonomi, Pelatihan, dll).

Aktifitas (Agenda Kerja)
     Jaringan kerja, Pengkaderan, Pendidikan dan Pelatihan, Investigasi, Advokasi, Aksi Kemanusiaan, Kajian Strategis (Diskusi terbatas, diskusi terbuka, Seminat, Lokakarya), Penyebaran Informasi, Monitoring dan kontrol kebijakan dan agenda insidental.

Sumber Dana
  • Swadaya Warga
  • Usaha Yang Produktif
  • Bantuan yang Tidak mengikat

Stepala (Sosek Peternakan Pecinta Alam)

Sosek Peternakan Pecinta Alam atau Disingkat "STEPALA" ini adalah organisasi internal Himsena-UH, Stepala sendiri didirikan untuk menampung minat warga Himsena-UH. sebagai organisasi internal, Stepala dibawahi oleh Departemen Minat dan Bakat yang saat ini di Koordinatori Oleh Saharuddin, dan Ketua Stepala Saat ini adalah Ansar.

Mallangke, Petta Landung Oleh Abd. Muis





MALANGKE, PETTA LANDUNG
Part 1:

sore yang Indah di Desa ini, ada banyak cerita di Balik kesunyiannya. Seolah semua Pohon dan dedaunan ini terlihat berbicara, begitu Hidupnya mereka ini. Suara burung di Pepohonan tak mau kalah oleh suara Kendaraan di Kejauhan sana, sangat Hidup desa ini. Tak lama Kemudian para petani terlihat mulai berdatangan dan membawa senyum keindahan, oh sungguh bahagianya mereka. Mereka tak hanya Pulang membawah Lelah, tapi mereka jga pulng dgn keceriaan karena hasil yang mereka bahwa dan semangat mereka terlihat langsung pulih ketika melihat anak-anak dan keluarga mereka menyambutnya di Rumah, sungguh bahagianya keluarga itu. Banyak Hal yang dapat kupelajari dari mereka, bahwa hidup tidak harus dengan Mobil, Rumah bak Istana, dan barang-barang mewah Lainnya, Hidup bahagia adalah bagaimana kita dapat menerima segala sesuatu dan sederhana seperti Tanah yang tak pernah menolak Rumput tumbuh diatasnya. Kesederhanaan itu tergambar jelas di wajah mereka, sungguh begitu besar kekaguman ini pada mereka.

Setelah mereka Pulang, kini malam sebentar lagi datang, para Burung dan lainnya di gantikan Oleh suara Jangkrik yang di gabungkan dengan suara Jam dinding di Telingaku, sungguh Komposisi Suara yang merdu. kudengar dari Luar jendela ini, seorang ibu sedang berdongeng Untuk anaknya, ku tahu bahwa Ibu itu sedang berusaha menidurkan putranya.sungguh suara itu sangat Mengingatkan aku pada Ibu. Malam Mulai semakin Gelap, mungkin kisahku akan Kulanjutkan lagi Esok, akan Lebih baik jika proses menuju tidurku kugunakan untuk mengingat Ibu.

Mallangke....

 Part 2:

Masih Cerita Mallangke, Petta Landung:
sore ini seperti Biasa seperti sore Kemarin dan sebelumnya, anak-anak ini terlihat ceria dengan Bola Plastiknya di Halaman Rumah, mereka bermain dengan sangat Bersemangat, tidak biasa diantara mereka terjadi Pertengkaran. Ketika yang lain mencetak Gol maka yang lain pun terlihat sangat Heboh dengan Gol itu, tapi tidak seperti dengan team lawannya, mereka terlihat Kesal seolah tidak menerima apa yg baru saja terjadi. Tapi karena kegembiraan mereka, ketegangan karena suatu kejadian yang tidak selalu menguntungkan kedua pihak terlihat seperti biasa lagi, mungkin karena mereka sangat sederhana memaknai Permainan, yang kulihat adalah bahwa bermain bersama teman-teman tidak untuk menjatuhkan, tapi bagaimana mereka bisa tertawa bersama. Sungguh sangat menakjubkan tingkah Laku bocah-bocah ini.
Para Ibu yang menunggu sang Ayah Pulang membawa hasil dari bertani, duduk dihalaman Rumahnya sambil menyaksikan anak Mereka bermain, tidak biasa senyuman dan Tawa melihat anak mereka terlihat begitu saja. Yang Kutahu bahwa mereka sangat sayang kepada anak-anak mereka. Sementara disisi lain ada juga yang melakukan Pekerjaan Rumah, menyapu, Memasak dll. Yang ku tahu bahwa mereka sedang menyiapkan sambutan untuk sang Suami tercinta sepulang iya Bekerja. Sungguh Cinta telah membawa mereka pada Kebahagiaan yang tiada tandingannya.
Disisi Lain, saya masih berdiam menyaksikan sekitar, Pohon Jagung tepat disamping Rumah yang beberapa hari lalu kulihat masih Pendek kini iya menjadi tinggi walau sebelumnya ku tak pernah melihat iya bergerak. Sungguh hidup yang Luar biasa, tak ada Tumbuhan yang menolak Tumbuh di Desa ini, semuanya akan Tumbuh, entah kenapa kumulai berfikir bahwa sekalipun mereka tumbuhan yang tidak Mungkin bicara tapi iya Pasti Tumbuhan yang beruntung Tumbuh disana.
Anak-anak ini masih bermain, dan sepertinya mereka memintaku ikut Bermain. Ya sudah apa Boleh buat.\


Part 3:
Aku masih disini,berpikir dengan berusaha mencermati kembali apa yang telah terjadi disekitarku. Setiap hari Kulihat sang Petani Bekerja keras mencari Nafkah, Si Nelayan hanya berharap kepada Laut, dan si Buruh hanya berharap pada Upahnya yang tidak pernah cukup untuk hidup Normal , dan setiap hari juga kulihat Berita-berita di Media tentang pejabat-pejabat Negeriku yang Korup. Yah... Inilah yang terjadi di Negeriku, Negeri yang disetiap sudut Wilayahnya bercucuran Air Mata si Miskin meratapi Nasib dan Si Kaya Asyk tertawa terbahak-bahak karena bebas berbuat apa saja dengan Hartanya. Kemelaratan sudah menjadi Hal yang semakin Subur dan menjadi-jadi, yang memimpin akan menjadi penguasa dimana iya akan menjadi Monster pemangsa Terhadap yang Lemah, merekalah Para penindas, para Elite/birokrat yang bermuka dua, Muka yang satu adalah Kepalsuan, dan yang Kedua adalah Muka Kemunafikan. Yaitu mereka yang Pidato-pidatonya atas Nama Bangsanya dan Rakyatnya, namun pada kenyataannya adalah kepalsuan Belaka, Semua yang dikatakannya adalah Pidato Kosong dengan Beribuan Janji tanpa Praktik. Ada juga diantaranya yang selalu terlihat baik namun mereka ini adalah Golongan orang yang baik hanya dari sisi Luarnya saja, tapi kenyataannya merekalah para Pemangsa Rakyat, Para Korup yang selalu membicarakan Sistem tapi mereka sendiri yang tidak secara sistem pada praktiknya. Yang mereka lakukan adalah Politik pencitraan, yaitu suatu perilaku Seolah baik demi mendapatkan Pengakuan Sosial demi suatu Moment. Sungguh kondisi yang tidak baik untuk menamai Mereka sebagai Pemerintah yang Berdaulat. Akhir-akhir ini Si Penguasa baru saja menaikkan BBM yang dampaknya sudah sangat Kita rasakan, diantaranya adalah Naiknya harga Bahan Pokok, Biaya pendidikan semakin Mahal. Hampir tidak ada Bedanya dengan Kondisi pada saat Negeri ini di Jajah Belanja, dimana Para anak Asli Indonesia (Inlander) tidak bisa merasakan Pendidikan dan hanya anak-anak Belanda saja yang bisa. Bedanya dgn Hari ini, yang menjajah adalah Penguasa dan para Konlomerat yang memiliki Banyak Rupiah sedangkan si Miskin selamanya di Tindas. Sehingga dalam Praktiknya, si Kaya akan Mendapatkan Pendidikan sesuai keinginannya sedang Si Miskin (Tani,Nelayan dan Para Buruh) hanya bisa membantu Orang Tua bekerja dan tidak untuk di Didik di Sekolah Formal karena alasan Ekonomi. Lalu dimana para birokrat yang harusnya mengurusi ini, kementrian Pendidikan kita hanya sibuk Membahas mengenai Persentase kelulusan hasil Ujian Nasional SD,SMP,SMA yang dilakukan setiap tahun yang kita tahu bersama, bahwa sama sekali tidak mencerdaskan anak Bangsa melainkan menjatuhkan semangat pelajar karena proses yang bertahun-tahun hanya digugurkan Oleh selembar Kertas dalam waktu 60-120 Menit. Belum lama juga kita pasti masih ingat Mengenai Proyek Pengadaan Kertas dan Pensil untuk Paket ujian yang sempat berkasus. Hahaha... Itulah akibat dari pendidikan yang Komersial, disetiap sisinya yang di Cari hanya keuntungan Rupiah belaka. Haruskah Selalu si Miskin yang dikorbankan? Ataukah memang tujuan suatu Negeri dalam hal ini adalah Pemerintah hanya untuk menindas saja? Bukankah solusinya hanya cukup kejujuran dan transparansi saja?
Saya sadar hanya masih bisa mengkritisi, tapi apalah daya, inilah yang kurasakan, inilah jeritanku, hanya ini yang bisa kulakukan, terus berteriak walau ku tahu hanya beberapa orang yang saja akan mendengar dan Membacanya, walau setelah itu ini takkan berarti apa-apa lagi. Semoga kita semua sadar, bahwa negeri kita masih sangat jauh dari ukuran sejahtera.
Selamat Tengah Malam

SAMBUTAN KETUA UMUM HIMSENA-UH

                                                                                   SAMBUTAN KETUA UMUM HIMSENA-UH
Assalamu Alaikum Wr.Wb
Salam Sejahtera buat kita semua

Himsena-UH sebagai  lembaga kemahasiswaan yang seiring berjalannya waktu telah banyak mengalami perubahan baik dari segi internal maupun eksternal organisasi.   Penanaman nilai kader organisasi mampu menjadikan Himsena yang lebih berkemajuan dalam pengembangan implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Himpunan Mahasiswa Sosial  Ekonomi Peternakan (Himsena-UH) Sebagai wadah Pengembangan implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi adalah sebuah cermin aktualisasi fungsi Mahasiswa sebagai intelektual dan agent of change yang menjunjung tinggi kesucian idealisme dan Moral.

Himsena-UH memiliki banyak kader-kader, namun banyak jugan yang tidak mengetahui kondisi Himsena sekarang. Maka kami dari Pengurus Himsena memberi informasi-informasi update kegiatan dan kondisi Himsena dimasa sekarang melalui jejaring sosial yang dapat di Akses di website: www.himsena.me. 
Mudah-mudahan ini dapat bermanfaat bagi kita semua terutama untuk eksistensi lembaga kita "HIMSENA Tercinta"..
 JAYALAH HIMSENA...!!!
Fastabiqul Khoirat !

 Wassalam
ANSAR RUSTAM

Ketua Umum Himsena-UH Periode 2014/2015

Copyright © 2013 HIMSENA-UH - Designed by Creative Team -